19/12/2012
Wajah Televisi Indonesia dalam Anugerah KPI 2012
19/12/2012
Wajah Televisi Indonesia dalam Anugerah KPI 2012

Saya sulit mendeskripsikan apa yang saya pikir dan rasakan—mungkin semacam terkejut, tercengang, marah, kemudian pesimis—ketika mendapati bahwa ada tayangan televisi Indonesia, yang buruk, tapi diganjar penghargaan. Masalahnya benar-benar sulit: karena tayangan tersebut benar-benar buruk. Sebut saja Uya Emang Kuya (SCTV), Silet (RCTI), atau Putri yang Ditukar (RCTI), sebagai judul-judul tayangan yang meraih penghargaan pada Panasonic Gobel Awards (PGA) tahun ini.

Untungnya, pada  11 Desember kemarin, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyelenggarakan Anugerah KPI 2012 yang dimaksudkan sebagai ajang penghargaan bagi karya-karya terbaik penyiaran sepanjang 2012. Kalau metode penjurian PGA berdasarkan popularitas khalayak—yang tak bisa menjamin kualitas tayangan yang menang—maka Anugerah KPI menilai sebuah tayangan berdasarkan bobotnya. Pendek kata, maafkan kalau dengan lancang saya katakan bahwa Anugerah KPI adalah pembangkangan dari sebuah sistem arus utama yang selama ini secara tunggal mendefinisikan apa-apa yang disebut baik dan penting. Dengan kata lain, Anugerah KPI adalah anti-tesis dari pseudo ajang penghargaan yang selama ini ada di Indonesia.

Anugerah KPI yang berlangsung setahun sekali ini tentu pertama-tama mesti diapresiasi, dan itu kita alamatkan kepada KPI. Melalui ajang ini, sebagai regulator dunia penyiaran Indonesia, KPI memperlihatkan upayanya dalam menyehatkan dunia penyiaran kita. Kalau pada kesehariannya KPI kerap bertindak sebagai “hakim”, maka pada ujung tahun ini mereka mau berlaku bak sinterklas: membagikan kado.

Anugerah KPI 2012 diikuti oleh 197 program acara dari 11 stasiun, dan memiliki 8 jenis kategori penghargaan dan 3 jenis kategori penghargaan khusus. Sebagai anti-tesis, Anugerah KPI memiliki cara yang berbeda dalam bekerja—dan itu memang sudah seharusnya. Pertama, metode penjuriannya. Tiap stasiun televisi berhak mengirimkan tiga judul tayangan andalannya untuk tiap jenis kategori penghargaan yang ada. Dari sana, oleh tiga orang juri pada masing-masing jenis kategori, dipilihlah tiga judul tayangan sebagai nomine yang dipersaingkan. Artinya, pemenang adalah mereka yang sudah diuji mutunya berdasarkan kualifikasi yang ditetapkan oleh para juri.

Kedua, adanya upaya pengalihan arus cara membaca karya televisi sebagai hasil kerja dari sekelompok kreator. Ini terlihat dengan tiadanya kategori penghargaan kepada individu (kecuali kategori lifetime achievement) seperti yang biasa berlaku pada ajang-ajang penghargaan lainnya. Alih-alih mengkultuskan sosok, cara yang ditempuh Anugerah KPI malah mengajak kita menghormati sebuah tayangan bukan sebagai sebuah produk massal mekanistis. Artinya, Anugerah KPI mempersonalisasi kekaryaan sebuah tim produksi, yang biasanya justru diberlakukan sebaliknya (depersonalisasi) dalam ajang penghargaan televisi yang lain: manusia di belakang layar hanya disisipkan sebagai catatan kaki.

Ketiga, tidak adanya kategori penghargaan bagi beberapa jenis/genre tayangan. Tak ada kategori penghargaan bagi infotainmentreality show, sinetron (drama seri), atau komedi, misalnya. Penghargaan yang ada hanyalah bagi tayangan berjenis program anak, musik, sinetron lepas/film televisi (FTV), buletin berita, dokumenter, feature, investigasi, dan talkshow. Saya memaknai metode pengkategorian semacam ini dalam dua kemungkinan: (1) KPI secara subjektif mencoba mendefinisikan ragam jenis/genre tayangan yang (masih) dianggap layak konsumsi, atau (2) bahwa memang tak ada tayangan yang bermutu pada jenis/genre tersebut. Namun apa pun yang mungkin benar dari dua kemungkinan tersebut, inti pesannya cuma satu: produksi dalam negeri atas reality showinfotainment, sinetron, dan lainnya adalah jenis tayangan yang belum merupakan tontonan sehat bagi masyarakat.

Catatan atas Anugerah KPI 2012

Bila paragraf berikut dan seterusnya bernada mengkritik, itu tidaklah mengurangi rasa hormat dan apresiasi saya terhadap apa yang sudah KPI lakukan melalui Anugerah KPI 2012. Pasalnya, penyelenggaraan Anugerah KPI yang disiarkan langsung oleh TVRI ini perlu mendapat beberapa catatan. Secara teknis, KPI mesti membenahi hal-hal sepele, tapi sebenarnya substantif. Hal itu seperti ditampilkannya video para nomine dengan estetika yang tak mampu menerbitkan selera. Dan kalau pemaknaan saya benar, bahwa Anugerah KPI—sadar atau pun tidak—ingin mempersonalisasi karya para kreator, maka dalam pelaksanaannya hal itu malah tampil sebaliknya: tidak adanya pencantuman atau atribusi nama-nama mereka yang berada di balik layar; tidak diberikannya cukup panggung apresiasi bagi individu-individu yang bekerja dalam kelompoknya.

Lalu mengenai sistem penjuriannya. Dalam siarannya di TVRI, publik rasanya tidak mendapat cukup informasi mengenai siapa dan apa latar belakang para juri tersebut. Pun tak cukup informasi mengenai alasan terpilihnya suatu tayangan sebagai penerima penghargaan. Alih-alih menjadi anti-tesis ajang penghargaan showbiz, struktur narasi penyelenggaraan Anugerah KPI masih dominan bicara dalam bahasa “hiburan”. Bagaimanapun, meski berusaha tampil memikat pemirsa, ajang Anugerah KPI haruslah berada dalam koridor kesadaran sebagai ajang penghargaan yang berbasis pada intelektualitas. Artinya, penjelasan juri terhadap masing-masing pemenang amat diperlukan bagi publik banyak. Karena para insan pertelevisian yang dinominasikan, hadirin, maupun pemirsa di rumah berbeda dengan penonton atau peserta yang sedang menunggu doorprize: semata menanti-nanti peruntungan.

Terpilihnya tayangan Swara Liyan (TVRI) sebagai penerima penghargaan di dua jenis kategori, yakni feature dan dokumenter, juga melahirkan bingung: apa pembedaan antarkategori tersebut? Mengapa satu judul tayangan bisa masuk pada dua jenis kategori, yang semestinya masing-masing mempunyai koridornya sendiri-sendiri?

Tanya pun menyeruak untuk 2 jenis kategori penghargaan khusus yang ada, yakni Radio Peduli Perbatasan (diraih RRI Entikong) dan Program Ramadhan Terbaik (diraih sinetronPara Pencari Tuhan, SCTV). Adanya satu kategori penghargaan untuk stasiun radio di tengah mayoritas kategori penghargaan berbasis karya televisi, terkesan dipaksakan, juga sekaligus menganaktirikan industri radio. Padahal, KPI adalah lembaga yang mengawasi baik industri televisi maupun radio.

Lalu adanya kategori Program Ramadhan Terbaik menandakan bahwa paradigma KPI masih berada dalam arus dominan khalayak mayoritas. Padahal, bangsa ini dihuni oleh berbagai pemeluk agama lainnya, yang semestinya juga diakomodasi oleh KPI. Tentu, poin ini bukan dimaksudkan agar diadakan pula kategori penghargaan bagi Program Waisak Terbaik, Program Natal Terbaik, atau Program Galungan Terbaik, misalnya. Poinnya adalah, penghargaan berbasis momentum keagamaan macam demikian tidaklah diperlukan. Karena bagi saya, penghargaan khusus bagi tayangan di bulan Ramadhan menyuratkan sebuah pesan: tayangan sampah di luar bulan Ramadhan lebih ditolerir.

Pada sisi para penerima penghargaan, Anugerah KPI yang berjumlah delapan jenis kategori ini hanya memunculkan TVRI (3 anugerah), RCTI (2 anugerah), SCTV (2 anugerah), dan Metro TV (1 anugerah) sebagai stasiun televisi yang berhasil menggondol pulang piala. Sedangkan stasiun TV lain harus puas hanya menjadi nomine, atau bahkan tidak masuk sama sekali (seperti yang dialami Trans TV). Lantas refleksi apa yang bisa publik petik dari Anugerah KPI tahun ini, yang diikuti oleh 11 stasiun televisi, sedangkan pemenangnya hanya didominasi oleh 4 stasiun televisi?

Secara kualitas, menjadi terang bahwa peta industri televisi “nasional” kita tengah mengalami kepincangan. Didominasinya penghargaan oleh hanya segelintir stasiun membuktikan bahwa kualitas kelayakan dan kepatutan muatan tayangan televisi di Indonesia masih teramat perlu dibenahi. Bopaknya wibawa UU Penyiaran yang mensyaratkan sistem televisi jaringan, janganlah diperkeruh dengan ikut bopaknya juga mutu tayangan televisi kita—walau itu kini tengah kita hadapi, dan anak-anak kita sedang tumbuh dalam cuaca yang demikian. []

Bacaan Terkait
Roy Thaniago
Roy Thaniago menulis dan meneliti hal seputar media, budaya, dan masyarakat. Ia mendirikan Remotivi pada 2010 dan menjadi direkturnya hingga 2015. Studi masternya diselesaikan di Lund University, Swedia, pada bidang Kajian Media dan Komunikasi. Di Jakarta, ia tinggal dengan Plato, seekor pug.
 
Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Setelah Kegagalan Bertubi-tubi, Apa Yang Mesti Dilakukan KPI?