19/03/2013
Reportase (Yang Belum Benar-Benar) Investigasi
Ulasan atas Reportase Investigasi
19/03/2013
Reportase (Yang Belum Benar-Benar) Investigasi
Ulasan atas Reportase Investigasi

“Apa yang bisa membuat sebuah liputan televisi layak untuk ditabalkan atau menabalkan diri sebagai sebuah liputan investigasi?” 

“Apakah semua liputan dengan label “investigasi” benar-benar merupakan liputan investigasi?”

“Bolehkan program dengan konten bukan liputan investigasi diberi label investigasi?"

“Apakah itu bisa dikategorikan sebagai pembohongan terhadap publik?”

 

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering saya dapatkan saat terlibat dalam diskusi maupun pelatihan jurnalistik televisi di berbagai tempat. Terutama, ketika kami membahas liputan investigasi. Para penanya umumnya merujuk pada program Reportase Investigasiyang ditayangkan Trans TV.

Reportase Investigasi awalnya merupakan salah satu segmen dalam tayangan beritaReportase (Trans TV). Seiring dengan perkembangan minat penontonnya, segmen itu kemudian dikembangkan menjadi program mandiri yang ditayangkan dua kali seminggu!!!

Dua kali seminggu? Betul! Setiap Sabtu dan Minggu pukul 17:45 WITA. Jika Anda setengah tak percaya, saya tidak akan heran.

Liputan investigasi bukanlah liputan biasa-biasa saja yang bisa dikerjakan kebut-kebutanatau kejar tayang. Hal itulah yang memicu munculnya pertanyaan, apakah kontenReportase Investigasi benar-benar reportase investigasi. Apakah penggunaan kata sifat “investigasi” pada judulnya benar-benar dimaksudkan sebagai cerminan karakter program, atau sekadar nama yang dipilih karena eye catching, ear catching, “berwibawa”, serta  berpotensi untuk menarik perhatian pemirsa?

Jujur, jika tujuannya memang untuk menggambarkan isi dan karakter program, penggunaan frasa Reportase Investigasi sebagai judul tayangan sesungguhnya terlalu berani, kalau tidak bisa disebut nekat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “investigasi” diartikan sebagai “penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta, melakukan peninjauan, percobaan, dan sebagainya, dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan (tentang peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat, dan sebagainya); penyidikan”. Maka, liputan investigasi bertujuan untuk memperoleh “jawaban” atas sesuatu. Metode yang digunakan adalah mencatat atau merekam fakta (menelusuri dokumen, wawancara, perekaman--termasuk perekaman tersembunyi), peninjauan (penelusuran langsung ke lapangan, termasuk melakukan penyamaran) dan percobaan (pengecekan silang, simulasi, tes laboratorium, dan lain-lain).

Jadi, ada tujuan dan ada metode. Yang perlu dicatat, tidak semua liputan yang menggunakan metode investigasi bisa serta merta menghasilkan liputan atau reportase yang bisa dikategorikan sebagai karya jurnalistik investigasi. Liputan atau reportase investigasi bukan sekadar informasi terkait unsur 5 W+1 H (What, Who, Where, Why, When + How) seperti dalam straight news. Liputan investigasi juga tidak berhenti pada penggambaran permasalahan secara komprehensif dan mendalam, seperti yang biasa dilakukan dalam liputan mendalam (in-depth reporting). Liputan investigasi mesti mampu mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi atau disembunyikan secara tuntas, sehingga nyaris tidak ada pertanyaan-pertanyaan penting yang tersisa dan tidak terjawab. Itu poin pentingnya.

Karena ditujukan untuk mengungkap sesuatu, liputan investigasi diawali dengan seperangkat hipotesis. Hipotesis kemudian  diuji dan diverifikasi melalui penelusuran data, peliputan lapangan dan berbagai metode investigasi lain seperti yang telah disebut di atas. Jika hasil liputan dan penelusuran itu ternyata tidak atau kurang mendukung hipotesis yang disusun saat perencanaan, bisa saja liputan itu dibatalkan atau diulang dari awal. Oleh sebab itu, bisa dimengerti jika liputan (yang benar-benar) investigasi jarang kita jumpai wira-wiri di layar televisi kita. Selain mahal dan berisiko, pengerjaan liputan investigasi juga bisa memakan banyak waktu hingga berpekan-pekan. Bahkan ada yang berbilang bulan.

Liputan investigasi adalah aktivitas jurnalistik. Oleh sebab itu, kewajiban memenuhi kepentingan publik—yang menjadi kewajiban dasar jurnalistik--juga  harus dipenuhi. Dari beberapa episode Reportase Investigasi yang saya amati, saya melihat tayangan ini cukup konsisten mengangkat tema-tema yang menyangkut kepentingan publik. Umumnya, yang didedah adalah modus operandi dan praktik-praktik ilegal berskala kecil. Topik “Hati-hati Perampok Incar ATM Anda (3 Februari 2013)” misalnya, mengupas tentang modus perampokan (lebih tepatnya, penipuan) terhadap pemilik kartu ATM. Korban diintimadasi sedemikian rupa sehingga mau menyerahkan kartu ATM berikut PIN-nya kepada pelaku. Setelah itu, teman pelaku akan segera membobol rekening korban. Topik ini tentu penting untuk diungkap, mengingat modus-modus penggangsiran rekening melalui ATM korban sampai kini terus berkembang.

Topik “Es Pisang Ijo Berbahaya” (5 Mei 2012) dan ”Tahuku Bertabur Gipsum” (12 Januari 2013) juga relevan untuk diangkat, mengingat praktik-praktik penggunaan bahan berbahaya dalam  makanan bisa menimbulkan dampak negatif yang meluas dan berjangka panjang terhadap kesehatan konsumennya. Episode “Es Pisang Ijo Berbahaya” mengungkap penggunaan zat pewarna tekstil dan pengawet ilegal dalam pembuatan bahan es pisang ijo, sementara episode “Tahuku Bertabur Gipsum” menjabarkan praktik pemanfaatan gipsum bahan bangunan sebagai campuran tahu, menggantikan gipsum untuk makanan yang harganya lebih mahal.

Saya pada dasarnya setuju dengan Dandhy Dwi Laksono, yang dalam buku Jurnalisme Investigasi menyebutkan bahwa salah satu syarat yang harus dipenuhi sebuah karya jurnalistik investigasi adalah skala  kasus yang diungkap harus cenderung terjadi secara luas atau sistematis (ada kaitan atau benang merah). Apakah skala kasus yang diangkatReportase Investigasi sudah termasuk dalam kategori ini? Ini hal yang menarik untuk didiskusikan. Namun saya memilih untuk mengesampingkan dulu persoalan itu. Saya ingin mengajak Anda untuk mengkritisi Reportase Investasi dengan kerangka analisis lain yang lebih umum, yakni standar jurnalistik.

Jika bangunan fakta yang dibangun dalam liputan investigasi dianalogikan sebagai tembok, maka salah satu jenis batu bata yang digunakan untuk membangun tembok itu adalah keterangan narasumber. Narasumber terbaik, atau narasumber kelas satu adalah korban, pelaku, atau saksi mata yang menyaksikan langsung, atau terlibat dalam kejadian/peristiwa. Informasi dari narasumber di lingkaran ini lebih kuat ketimbang informasi sekunder yang termuat dalam dokumen Berita Acara Pemeriksaan (BAP), dokumen sidang pengadilan, dan lain-lain.

Bangunan fakta pada tiga episode yang saya amati dibangun dari keterangan narasumber yang disebut sebagai “pelaku”. Artinya, sumber informasinya benar-benar dari lingkaran terdalam. Ini bisa jadi jaminan mutu, bahwa konstruksi fakta yang dibangun dalam liputan benar-benar kokoh, sepanjang status dan keterangan narasumber tersebut, benar-benar terverifikasi dengan baik. Tapi, justru di situlah permasalahan utama dari narasumberReportase Investigasi. Di ketiga tayangan yang saya cermati, tidak tersedia cukup informasi yang bisa membuat penonton yakin, bahwa narasumber utama dalam liputan itu benar-benar kredibel.

Nama, wajah dan suara narasumber utama Reportase Investigasi selalu disamarkan. Ini sebenarnya hal biasa dan bisa diterima dalam upaya melindungi keselamatan dan kerahasiaan narasumber yang telah “membocorkan” informasi rahasia.  Masalahnya, kredibilitas narasumber anonim yang informasinya dijadikan “tulang belakang” dan “daging” dari liputan itu, tidak bisa diverifikasi.  Penonton seperti dipaksa percaya bahwa narasumber yang nama, wajah, dan suaranya disamarkan, memang benar-benar penggangsir rekening nasabah melalui ATM,  memang pedagang es pisang ijo nakal yang membubuhkan pewarna tekstil dan garam bleng ke dalam adonan pelapis pisangnya, atau memang benar-benar pegawai pabrik tahu yang biasa mencampurkan gipsum bahan bangunan ke dalam adonan tahunya.

Salah satu prinsip atau elemen dasar jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Buku 9  Elemen Jurnalisme oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiel yang dikutip Andreas Harsono di majalah Pantau pun menawarkan lima konsep dalam verifikasi: jangan menambah atau mengarang apa pun; jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, atau pun pendengar; bersikaplah transparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase; bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri; dan bersikaplah rendah hati.

Pada awal 2000-an, saya pernah membaca berkas proposal penawaran yang dikirimkan seseorang berinisial “H” ke meja Koordinator Peliputan RCTI. Dalam proposal tersebut H mengusulkan sejumlah paket liputan investigasi televisi seperti ayam berformalin, tahu berformalin, dan sejumlah praktik curang lain yang umumnya berskala kecil. Untuk mengerjakan itu, H, yang seingat saya mengaku tinggal di kawasan Tanjung Priok, menawarkan jasa bantuan liputan investigasi. Teknisnya, H akan menyediakan tempat, aktor, dan peralatan untuk memperagakan berbagai modus praktik curang yang akan diliput.

Ambil contoh soal pedagang nakal yang mengawetkan ayam potong dengan cairan formalin. Tim liputan cukup datang dengan membawa peralatan liputan ke lokasi yang ditentukan oleh H. Di sana H akan menyediakan orang yang akan memperagakan sequence-sequence kegiatan utama yang dibutuhkan tim peliput, seperti memotong ayam, membersihkan, hingga merendam daging ayam dalam formalin. Orang tersebut juga siap untuk diwawancara sebagai narasumber. Tentu saja sebagai narasumber anonim atau disamarkan semua identitasnya. Artinya, visualisasi praktik-praktik curang yang direkam tim peliput, bukan adegan sesungguhnya dan bukan di tempat sesungguhnya. Adegan tersebut merupakan peragaan. Peragaan dari kejadian yang kami tidak tahu, apakah benar-benar ada atau tidak. Atau kalau pun ada, kami tidak tahu itu terjadi di mana. Redaksi RCTI tidak pernah menindaklanjuti proposal itu yang, belakangan saya dengar, juga dikirimkan ke beberapa stasiun televisi lain.

Saya berkeyakinan penuh bahwa Reportase Investigasi tidak menggunakan jasa liputan seperti yang ditawarkan oleh H atau pun cara manipulatif lain. Namun, di dalam dunia jurnalistik, kredibilitas tidak hanya dibangun dan bersandar pada keyakinan. Kredibilitas dibangun melalui ketaatan terhadap standar-standar dan etika jurnalistik. Ketaatan yang tercermin bukan hanya dalam proses peliputan, tetapi juga penayangannya. Verifikasi bukan hanya penting untuk membangun kredibilitas liputan, tetapi juga sebagai pertanggunjawaban kepada publik atas kepercayaan yang mereka berikan kepada jurnalistik.

Bagaimana Reportase Investigasi harus melakukan verifikasi terhadap narasumbernya? Salah satunya adalah dengan memberikan informasi setransparan mungkin tentang si narasumber tanpa harus membocorkan identitasnya. Dalam tayangan “Hati-hati Perampok Incar ATM Anda” misalnya, penonton tidak cukup diyakinkan dengan hanya menyebut narasumber sebagai pelaku kejahatan. Harus ada informasi yang jelas tentang “track record” si narasumber dalam kejahatan itu, sehingga penonton bisa menakar kualitas informasi dan kompetensi yang bersangkutan dalam menjelaskan kasus itu. Juga perlu ada penjelasan, bagaimana tim Reportase Investigasi bisa menemukan, mendekati, dan berhasil membujuk pelaku agar mau “buka kartu”. Informasi semacam itu penting karena meskipun nama, wajah, dan suara narasumber disamarkan, pemirsa masih dimungkinkan untuk menilai dan memverifikasi kredibilitas narasumber berdasarkan indikator yang objektif. 

Hal lain yang juga perlu dilakukan adalah memverifikasi keterangan narasumber utama dari sumber lain. Masih pada episode yang sama, terdapat adegan pelaku mengintimidasi seorang pengunjung ATM, sampai si korban ketakutan dan bersedia menyerahkan kartu ATM berikut PIN-nya kepada pelaku. Dalam adegan ini, yang disamarkan bukan hanya wajah pelaku, tetapi juga wajah korban, sehingga penonton tidak bisa membaca ekspresi atau pun bahasa tubuh korban. Dengan demikian, penonton tidak punya informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai, apakah modus operandi yang didemonstrasikan langsung oleh pelaku itu memang merupakan modus operandi yang biasa dilakukan para penjahat atau tidak. Dan, mungkin ini pertanyaan usil: apakah adegan—yang disebutkan direkam dengan kamera kancing—itu benar-benar kejadian riil atau adegan yang diatur?

Pengecekan silang, misalnya melalui wawancara mantan penjahat yang pernah mempraktikkan kejahatan serupa (bukan sebagai sumber anonim), akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan penting ini. Demikian juga wawancara dengan mereka yang pernah menjadi korban kejahatan dengan modus operandi serupa. Komentar dan penjelasan mereka terkait modus operandi itu akan memverifikasi informasi dari pelaku anonim yang dijadikan sebagai narasumber utama.

Sekali lagi, verifikasi adalah salah satu elemen penting dalam jurnalistik. Dalam liputan investigasi, verifikasi secara cermat dengan prosedur yang bisa dipertanggungjawabkan, merupakan hal yang mutlak dilakukan. Karena, liputan investigasi bertujuan untuk mengungkap sesuatu yang disembunyikan atau tersembunyi. Sesuatu, yang jika diungkap, bisa mengganggu pihak lain yang mungkin saja akan melakukan perlawanan melalui jalur hukum. Memang kecil kemungkinan bahwa “orang-orang kecil” seperti pedagang es pisang ijo, pengusaha tahu, atau pedagang bakso akan melakukan tuntutan hukum, seandainya mereka tidak puas atau pun dirugikan oleh liputan investigasi. Namun, dalam liputan dan penayangan program jurnalistik, tanggungjawab jurnalis bukan sekadar kepada narasumber atau mereka yang diliput, tetapi kepada publik yang menjadi khalayak mereka. Publik berhak mendapatkan informasi yang akurat, komprehensif, dan terverifikasi. Karena, informasi itulah yang akan mereka jadikan dasar untuk bersikap atau mengambil keputusan.

Membuat publik bisa memahami kompleksitas masalah yang diliput, dan bisa membuat publik mengambil keputusan berdasarkan hasil liputan, adalah salah satu ciri dan fungsi liputan investigasi (lebih lengkap, lihat  Dandhy Dwi Laksono, 2010), yang membedakannya dengan jenis liputan lain. Dalam konteks ini, ketiga episode Reportase Investigasi yang saya amati belum berhasil mencapainya. Karena, tayangan tersebut tidak cukup menggambarkan skala permasalahan. Kasus es pisang ijo dengan pewarna tekstil dan tahu yang telah dicampur gipsum bahan bangunan, tidak jelas terjadi di mana. Taruhlah lokasi narasumber utamanya harus disamarkan karena alasan keamanan. Namun, informasi tentang sebaran kasus tetap diperlukan, agar penonton mendapatkan gambaran apakah jajajan di sekitar mereka aman atau tidak.

Tim liputan sesungguhnya bisa melakukan pengecekan dengan mengambil sampel acak di titik-titik lain. Tentu dengan mengikuti prosedur yang secara metodologis bisa dipertanggungjawabkan, sehingga temuan yang diperoleh membuat pemirsa memahami kompleksitas dan skala persoalan. Dalam episode “Tahuku Bertabur Gipsum”, tim Reportase Investigasi sudah melakukan uji laboratorium terhadap tahu yang beredar di pasar, termasuk di supermarket. Ini langkah yang patut diapresiasi, meskipun hasilnya tidak sepenuhnya memperkuat konstruksi fakta yang hendak dibangun, karena parameter yang diuji tidak menunjukkan langsung pada adanya kandungan gipsum bahan bangunan dalam sampel tahu yang diuji. Selain itu, Reportase Investigasi juga selalu memberikan tips praktis untuk  untuk mengenali dan menghindari kejahatan dan praktik curang. Tips-tips ini sangat bermanfaat. Namun, itu semua tidak bisa jadi faktor yang bisa membuat tayangan ini dikategorikan sebagai sebuah reportase yang (benar-benar) investigasi. []


Daftar Pustaka

Laksono, Dhandy Dwi. 2010. Jurnalisme Investigasi. Mizan Group

Bacaan Terkait
Imam Wahyudi

Pernah menjadi jurnalis untuk koran cetak dan televisi. Kini menjabat sebagai anggota Dewan Pers masa bakti 2013-2016.

Populer
Bagaimana Tribunnews Membantu Terorisme?
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Stereotipe Perempuan dalam Media
Berbahasa dalam Sosial Media
Premanisme Adalah Musuh Kebebasan Pers