Gambar: www.toonpool.com
Gambar: www.toonpool.com
31/07/2013
Ramadhan, Televisi, dan Kelesuan Rohani
Di bulan Ramadhan, hasrat untuk menyucikan diri membuat mayoritas masyarakat mendekat kepada agama.
31/07/2013
Ramadhan, Televisi, dan Kelesuan Rohani
Di bulan Ramadhan, hasrat untuk menyucikan diri membuat mayoritas masyarakat mendekat kepada agama.

Berpuasa di Indonesia rasanya lebih mudah bila dibandingkan dengan di negara lain. Tidak hanya karena waktu yang relatif pendek, yakni sekitar 12-13 jam (bandingkan, misalnya, dengan di negara-negara Eropa yang bisa mencapai 16-18 jam), tetapi juga karena televisi pun beramai-ramai menampilkan program untuk merayakan bulan ini. Selama satu bulan, kita akan jauh dari tayangan-tayangan yang mengumbar aurat dan menggoda iman. Para selebritas yang biasanya tampil dengan pakaian serba minim mendadak berjilbab dengan ngejreng, siraman rohani bertebaran sepanjang waktu, kuis-kuis berhadiah jutaan rupiah pun menjajah layar kaca kita.

Namun, apakah banyaknya tayangan itu benar-benar dimaksudkan untuk menghormati bulan Ramadhan? Sepertinya tidak. Barangkali tidak akan pernah. Tayangan-tayangan tersebut mengisi Ramadhan dengan menghilangkan nilai-nilai Ramadhan. Di minggu pertama saja, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) setidaknya sudah melayangkan teguran kepada 4 tayangan. Ironisnya, teguran tersebut tidak hanya diberikan kepada tayangan yang sudah bisa “diprediksi” seperti Sahurnya Fesbuker (ANTV) dan Yuk Kita Sahur(Trans TV), tetapi juga Hafidz Indonesia (RCTI) yang banyak disebut sebagai tayangan berkualitas.

Fakta sederhana tersebut menjadi ilustrasi betapa religiotainment ala televisi menampilkan Ramadhan sebagai bulan yang penuh sesak dengan hiburan bertopeng agama. James Hoesterey dalam buku Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia (2008) mengatakan bahwa revivalisme Islam membuat otoritas keagamaan menyebar di berbagai entitas tak terkecuali dalam televisi (media). Otoritas keagamaan televisi ini dalam pengalaman di Indonesia nampak dalam fenomena yang disebut Hoesterey sebagai tele-dai.

Tele-dai dengan gemilang memanfaatkan ceruk krisis kultural masyarakat karena gempuran gaya hidup materialistis dan hedonis. Terutama di bulan Ramadhan, hasrat untuk menyucikan diri membuat mayoritas masyarakat mendekat kepada agama. Kesadaran akan Tuhan(god consciousness) ini terjadi secara masif, apalagi di negara seperti Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pendekatan diri kepada agama mendesak orang-orang ini untuk belajar agama secara praktis dan aplikatif.

Televisi hadir untuk menjembati keinginan tersebut. Televisi adalah media penyiaran dengan penetrasi informasi ke publik yang begitu kuat. Jumlah frekuensi penyiaran yang terbatas, alih-alih membatasi ruang gerak televisi, justru membuat televisi semakin gencar masuk ke dalam ruang privat masyarakat. Hal inilah yang membuat perjumpaan televisi dengan syiar agama begitu mesra.

Kekuatan visual—ditambah banyaknya waktu dan kuatnya penetrasi—juga membuat televisi mampu mempengaruhi memori publik. Pengaruhnya jauh berbeda jika kita bandingkan, misalnya, dengan media cetak. Ketika syiar Islam berjalin kelindan dengan televisi, ia tidak lagi sekadar perkara fikih. Dalam era tele-dai, syiar agama telah menjadi gaya hidup; ustad-ustad menjadi tak jauh beda dari merk dagang kepercayaan. Mencari kesegaran rohani di televisi seperti pergi ke supermarket dengan banyak pilihan ustad. Kita tinggal memilih mana yang sesuai dengan kehendak hati.

Yang sakral, yang profan, yang etis, yang estetis, lebur dalam arus besar budaya populer. Ustad-ustad muda yang sering (di)tampil(kan) di televisi menjelma menjadi selebritas yang punya banyak penggemar fanatik. Tidak hanya tampil dalam tayangan ceramah keagamaan, lantas ustad-ustad ini muncul dalam sinetron dan iklan. Kehidupan pribadinya kerap dibeberkan pula dalam  infotainmen. Ketika hal ini terjadi, selera pasar lah yang kemudian berbicara. Frekuensi tayang di televisi tidak berbanding lurus dengan pemahaman sang ustad tentang agama. Ustad-ustad ini menjadikan agama sebagai bungkus, bukan isi.

Kita tidak akan menyaksikan ustad-ustad seleb ini bicara tentang isu keagamaan yang akhir-akhir ini kerap berujung pada konflik sosial. Tema-tema ceramah hanya sampai pada tataran moralitas normatif.  Pada akhirnya, gegap gempita hiburan di sekitar ceramah keagamaan justru meminggirkan (bahkan meniadakan) pesan-pesan religius yang ingin disampaikan. Sebagai produk industri budaya populer, komodifikasi agama dalam tayangan televisi adalah satu keniscayaan.

Setiap tayangan yang tidak laku akan cepat mati. Jika ingin berusia panjang dan mendapatkan rating tinggi, nilai tambah harus diberikan: bumbu seks, humor kasar maupun kekerasan ditaburkan di sana-sini. Nilai tambah yang, pada satu titik, justru berakibat pada hadirnya kedangkalan. Sayangnya, hari-hari ini, proses pendangkalan tersebut bisa kita rasakan dengan begitu masif.

Tak perlu heran jika di setiap waktu sahur, lawakan sarkastik ala Olga Syahputra maupun Eko Patrio—sang anggota dewan yang terhormat—lah yang muncul. Alih-alih tertawa seperti para penonton di studio televisi tersebut dan bersemangat untuk makan hidangan sahur, tayangan-tayangan ini justru membuat saya muak. Religiusitas macam apa yang bisa didapatkan dengan menonton tayangan semacam itu?

Pendangkalan pesan sebagai konsekuensi komodifikasi yang terjadi di televisi patut dijadikan salah satu penyebab kelesuan rohani masyarakat. Televisi tidak menampilkan agama sebagai basis norma-norma religius yang menjadi tuntunan masyarakat. Agama justru dibajak menjadi modus untuk menarik keuntungan. Ia tidak lebih dari sekadar tontonan.

Karena hanya memanfaatan momentum Ramadhan,  konten keagamaan dalam tayangan-tayangan ini diperlakukan secara sambil lalu. Asosiasi citra beragama didangkalkan. Simak misalnya, dalam banyak tayangan maupun kuis kerap dikutip ayat-ayat Al-Quran tanpa pemberian konteks yang tepat. Tentu ironis bagaimana simbol-simbol agama ditampilkan serampangan sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan tafsir para penonton. Sebagai tontonan sambil lalu, tak ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan refleksi. Jejaknya ini begitu mudah terhapus.

Selepas Ramadhan, hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar tayangan tersebut hilang tanpa bekas. Selebritas perempuan kembali melepaskan jilbabnya, reality showmengumbar kembali caci maki dengan vulgar, dan sebagainya.

Puasa, pada hakikatnya berfungsi melatih kesabaran, yang tidak sekadar perkara makan dan minum. Ada dimensi sosial yang melekat di dalamnya. Namun, televisi nyaris selama 24 jam sehari menjejali masyarakat dengan berbagai iklan yang memiliki daya hipnotis tinggi. Adrenalin khalayak sebagai konsumen (alih-alih warga negara) dipacu kencang dengan berbagai iklan yang merentang, dari makanan, obat, alat komunikasi, sampai fashion.Relasi gempuran iklan ini menegaskan apa yang pernah disebut Kuntowijoyo dengan budaya pasar. Siklus komodifikasi agama berputar sempurna.

Pada akhirnya, memang tak ada nilai-nilai Ramadhan dalam tayangan Ramadhan. Berharap pada televisi barangkali akan terasa fatalis karena kodratnya televisi memangberorientasi pada akumulasi kapital sebagai anak kandung industri budaya populer. Pada momen krusial semacam ini, kita tentu berharap pada negara untuk menegakkan regulasi dan melindungi publik. Atau kalau negara memang sudah segendang sepenarian dengan derap kapital, harapan tersisa hanya kepada publik agar tayangan semacam itu tidak berulang setiap tahun. Bagaimana? []

Bacaan Terkait
Wisnu Prasetya Utomo

Wisnu Prasetya Utomo. Penulis buku Suara Pers Suara Siapa? (2016), dan Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan (2013) yang diangkat dari skripsinya. Saat ini, peneliti Remotivi dan penyunting buku Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca Orde Baru (2015) ini sedang melanjutkan kuliah di jurusan Media and Communication di University of Leeds, Inggris.

Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Ketika Rosi Izinkan Gatot Nurmantyo Menyebar Disinformasi
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Peluit Anjing Anies Baswedan
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia