27/09/2013
Retorika dalam Kemasan Super
Sebuah amatan atas tayangan "Mario Teguh Golden Ways" di Metro TV
27/09/2013
Retorika dalam Kemasan Super
Sebuah amatan atas tayangan "Mario Teguh Golden Ways" di Metro TV

Tahukah Anda mengapa Mario Teguh senang menggunakan kata “super”? Dalam salah satu episode Mario Teguh Golden Ways (MTGW) yang ditayangkan Metro TV, ia menanyakan kabar para penonton. Ketika dijawab “baik”, Mario buru-buru meralat. “Jangan pakai kata ‘baik’, kalau bisa ‘lebih baik’, dan ‘lebih baik lagi’,” kata sang motivator. “Gunakanlah kata ‘super’!” Tepuk tangan pun membahana.

Meski sulit dibayangkan dalam kehidupan nyata ada orang ditanya kabar yang sungguh-sungguh menjawab “super!”, bagi para penonton MTGW hal ini adalah sesuatu yang wajar saja—bahkan menakjubkan. Kata “super” memang sudah menjadi ciri khas Mario Teguh, bersama gerak andalan mengacungkan jari telunjuk sambil berkata, “Itu!” pada setiappunchline nasihat yang ia berikan.

Penokohan sosok Mario Teguh dalam acara ini tampak jelas dipersiapkan dengan rapi. Perhatikan bagaimana musik latar megah selalu diputar setiap kali ia memasuki ruang studio, dan para penonton diminta berdiri. Belum lagi tiap Mario bicara, bukan sekali dua kali, ada penonton yang disorot dengan tatapan memuja dan mulut ternganga.

Bandingkan dengan acara Kick Andy (Metro TV), di mana Andy Noya sebagai pembawa acara tidak ditokohkan sedemikian rupa, padahal kedua acara tersebut sama-sama memakai nama tokoh sebagai nama acara. Bedanya jelas: dalam Kick Andy, komoditasnya adalah cerita-cerita human-interest para bintang tamu, sedangkan dalam MTGW, komoditasnya adalah sosok Mario Teguh sendiri dengan segenap retorikanya yang super sekali.

Retorika itu sendiri tak selalu berarti buruk. Ia tak sekadar omongan berputar-putar demi menutupi ketiadaan isi. Kamus Mirriam-Webster mendefinisikan retorika sebagai seni bicara atau menulis formal sebagai cara membujuk atau mempengaruhi orang (the art or skill of speaking or writing formally and effectively especially as a way to persuade or influence people)—dan persis itulah yang dilakukan oleh Mario Teguh.

Seperti kebanyakan motivator, “senjata” utama Mario adalah teknik psikologi positif di mana segala permasalahan dipandang dari sudut baik. Dalam episode “Cinta Tanpa Restu” (8 September 2013), ia  berkata bahwa perkara serupa hanya mungkin terjadi pada orang-orang hebat karena “jalan orang hebat tidak pernah mudah.” Lain waktu ia berucap, “masalah adalah tanda penghormatan Tuhan terhadap kita”, dan “masalah adalah penanda kita akan naik kelas”.

Omongan-omongan semacam ini laku karena kita tidak tahan menghadapi kemungkinan bahwa dalam hidup ini memang kadang kita sial, mendapat masalah, dan gagal. Kita selalu ingin kesialan dan kegagalan itu dibungkus dengan sesuatu yang positif, manis, dan menimbulkan harapan.

Segala yang diucapkan Mario Teguh sesungguhnya pengetahuan umum yang sudah ada dalam diri kita sendiri. Bukankah manusia diciptakan dengan kesanggupan berpikir dan keberanian bertindak? Bahwa motivator seperti Mario Teguh kemudian menjadi sangat laris dan didengarkan dengan fanatik, artinya ada kekosongan spiritualitas yang serius dalam diri individu. Orang jadi tidak berani menimbang sendiri masalah-masalahnya, dan hati belum ayem kalau belum menyaksikan acara-acara motivasional yang sebenarnya berisi nasihat itu-itu juga.

Akar permasalahannya barangkali ada pada kehidupan kota yang makin lama makin membuat penduduknya terasing, baik satu sama lain maupun dari dirinya sendiri. Di dalam kereta atau bus Trans Jakarta, saya melihat bagaimana orang sibuk dengan ponsel masing-masing. Telinga disumpal earphone yang tersambung pada alat pemutar musik. Setiap orang menciptakan ruangan kecil bagi diri mereka sendiri. Saya membayangkan mereka itu berada dalam sejumlah kotak tak kelihatan berukuran pas badan. Mereka bersama-sama, tapi juga sendiri-sendiri.

Pada awalnya mungkin ini semacam suaka yang nyaman. Setelah berlelah-lelah seharian, hasrat untuk ngobrol basa-basi dengan sesama penumpang di kendaraan umum barangkali sudah hilang. Tapi, bayangkan betapa sepinya. Berangkat kantor tidak bicara dengan orang, di kantor barangkali hanya ngobrol saat makan siang (itu juga kalau tidak makan sendirian), malam pun demikian. Kita bicara, tapi kita tidak bercakap-cakap. Kita mendengar, tapi kita tidak mendengarkan.

Dalam keadaan seperti inilah, motivator mendapat tempat. Ia menjadi semacam sosok sahabat atau keluarga dekat yang selalu ada untuk memberikan solusi atau sekadar mendengarkan keluh-kesah. Dalam episode “I Want a Better Father” (15 September 2013), Mario pun mengakui bahwa ia memposisikan diri sebagai sosok ayah bagi para pendengarnya.

Bagi sebagian orang, ayah adalah pahlawan pertama, sosok yang bisa menilai baik-buruknya tindakan mereka, serta pemberi jawaban bagi setiap tanya. Tentu saja peran ini bisa digantikan oleh ibu, kakak, nenek atau kakek, bahkan sahabat dekat, tetapi ketika hidup telah membuat kita menjadi begitu sibuk, kita memang kekurangan waktu untuk menjalin percakapan penuh makna dengan mereka.

Duduk di sofa dan menyalakan televisi untuk menonton MTGW sepertinya jauh lebih praktis daripada berusaha berbincang dengan orang-orang yang dekat di hati kita. Hambatan jarak, waktu, belum lagi variabel emosi, membuat televisi sukses menggantikan peran hubungan antarmanusia. Televisi tidak pernah tidak mood. Televisi tidak pernahPMS. Televisi tidak pernah mengalami hari yang buruk. Televisi selalu siap sedia. Tinggal pencet, terhiburlah kita.

Persoalannya, retorika super Mario Teguh seringkali hanya menyentuh permukaan dan justru menghindarkan kita dari melihat gambaran besar kehidupan. Logika kapitalisme tampak kental dalam setiap nasihat yang ia berikan. Misalnya, ajakan untuk selalu berusaha jadi sukses, seolah hidup ini isinya melulu tangga yang harus didaki agar cepat sampai di puncak. Para perempuan dinasihati memilih lelaki yang tidak harus anak orang kaya, tapi sudah pasti calon orang kaya. Bahkan memilih jodoh pun harus seperti berinvestasi. Padahal kata Erich Fromm, cinta itu bukan tentang menerima, tetapi memberi.

Belum lagi nilai-nilai patriarki yang secara subtil juga muncul. Mario pernah mendeskripsikan ciri-ciri lelaki idaman, yakni lelaki yang memiliki keahlian di suatu bidang dan bersungguh-sungguh mendalaminya sehingga menjadi sangat ahli di bidang tersebut. Agar ia dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, di rumah ia diurus oleh seorang perempuan yang betul-betul memperhatikannya. Inilah sebaik-baik pernikahan.

Lagi-lagi perempuan diposisikan sebagai sosok yang mengabdi, seolah-olah ia diciptakan memang hanya sebagai konco wingking alias tokoh pendukung yang hanya mengurus dapur, sumur dan kasur. Dan perkataan Mario itu diamini oleh para penonton perempuan!

Sudah terlalu lama pernikahan dipandang sebagai semacam pembagian kerja berdasarkan gender, di mana suami berlaga di arena publik dan perempuan mengurus arena privat. Laki-laki dapat memperoleh aktualisasi diri melalui pekerjaan yang memungkinkannya bertemu orang baru dan hal baru setiap hari, sedangkan perempuan harus puas dengan pekerjaan rumah tangga yang dari waktu ke waktu selalu sama.

Saya tidak anti ibu rumah tangga, tapi saya menolak keras bila seorang istri tidak dapat mengembangkan potensi dan memberdayakan diri karena terbentur izin suami. Dan saya sedih bahwa tayangan-tayangan motivasional yang begitu laris macam MTGWmelanggengkan nilai-nilai seperti ini. Artinya, nilai-nilai patriarki akan semakin meresap ke dalam bawah sadar perempuan dan laki-laki, sehingga pemberdayaan individu jangan-jangan makin jauh panggang dari api.

Tapi apa boleh buat, selama orang masih selalu haus motivasi dan sering mengalami krisis kepercayaan diri, acara seperti MTGW memang masih laris dan akan selalu laris. Apalagi, Mario juga tampak berhati-hati menjaga agar pasarnya tetap luas. Pada bulan Ramadhan, misalnya, MTGW mengambil tema “Bismillah” (9 September 2013) dan sang motivator menerjemahkannya “dengan menyebut nama Tuhan”. Ia berhati-hati betul tidak menyebut nama Allah SWT—Tuhannya orang Islam—agar acaranya tetap terasa universal. Gawat sekali kalau orang-orang Kristen, Hindu atau Buddha malas menonton MTGW karena merasa Mario cenderung bicara pada satu golongan tertentu saja.

Dan jangan lupa, Mario itu sendiri nama panggung. Ia bernama asli Sis Maryono Teguh. Hanya saja kalau acaranya bertajuk “Maryono Teguh Golden Ways”, mungkin ratingnya tidak akan sesuper sekarang. Itu! []

Bacaan Terkait
Andina Dwifatma
Pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Jakarta. Pengelola situs longform journalism, PanaJournal.com. Peraih Anugrah Adiwarta 2011 untuk kategori feature terbaik berita ekonomi.
 
Populer
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"
Langkah Mundur KPI dalam Revisi P3SPS